Rabu, 04 April 2012

Peranan PIK untuk Menunjang Kecakapan Hidup Remaja


34061Edit 1.jpg
Add caption



Peranan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) dalam Menunjang Pendidikan kecakapan hidup (Life Skillspada Remaja Melalui Pendidikan Bertahap dan Mentoring




Disusun oleh:

Hendri Okferianto    16423.2010















UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PADANG
2012


ABSTRAK

Remaja merupakan masa transisi dimana seseorang yang sudah tidak dikatakan anak-anak lagi namun belum bias dikatakan telah dewasa. Masa remaja juga merupakan masa untuk mencari jati diri, dan makna kehidupan, pada masa mencari jati diri ini akan banyak timbul konflik-konflik yang yang akan menjadi maslah bagi remaja jika remaja tersebut tidak mampu untuk mengatasinya. Dapat dicontohkan remaja yang tidak mampu mengatasi masalah yang timbul adalah dengan melakukan penyimpangan kelakuan-kelakuan sebagai pelampiasannya. Banyka remaja yang pada awalnya hanya merokok, kemudian minum minuman keras, hingga keperbuatan asusila.
Untuk menghapadapi tantangan masa depan yang dirasakan akan semakin berat, remaja perlu memiliki kecakapan hidup (life skills) sebagai tameng untuk tetap dapat berdiri di tengah persaingan yang semaik ketat. Pendidikan life skills yang mencakup pendidikan kecakapan mengenal diri (self awareness), kecakapan berpikir rasional (thingking skills), kecakapan sosial (social skills), kecakapan akademik (academic skills), dan kecakapan vokasional (vocasional skills).
Untuk menunjang dan mempersiapkan kecakapan hidup remaja dapat dilakukan melalui peranan PIK sebagai fasilitator. PIk dapat memberikan pendidikan kecakapan hidup selah satunya melalui pendidikan kecakapan hidup secara bertahap dan mentoring. Pendidikan yang telah diberikan kepda remaja akan dilihat perkembangan dan kemajuannya pada remaja yang mendapatkan pendidikan tersebut, hingga remaja tersebut mampu mengahapi tantangan masa depan yang akan lebih sulit dan lebih tinggi persaingannya.







                                                                                                                        i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diberi judul Peranan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) dalam Menunjang Pendidikan kecakapan hidup (Life Skills)  pada Remaja Melalui Pendidikan Bertahap dan Mentoring.
Makalah ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk menjadi duta mahasiswa yang diadakan oleh BKKBN. Duta mahasiswa ini berkaitan dengan kehidupan dan prilaku remaja pada umumnya. Sebagai salah satu wujudnya yaitu diadakannya PIK pada sekolah amupun Universitas.
Pada makalah ini membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan kecakapan hidup (life skills), sebagai salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para remaja untuk mengahadapi tantangan masa depan yang semakin sulit. Dimakalah ini juga menjelaskan peranan PIK baik PIK Remaja maupun PIK Mahasiswa untuk menunjang kecakapan hidup remaja melalui pendidikan bertahap dan mentoring.
Makalah ini adalah makalah yang jauh dari sempurna, sehingga penulis mengaharapkan saran dan kritik dari para pembaca, agar makalah ini untuk ke depannya jauh lebih baik lagi.


                                                                                                Padang,   Maret 2012


                                                                                                                        Penulis



                                                                                                                        ii




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Remaja adalah masa dimana pertumbuhan dan perkembangannya baik dalam bentuk fisik maupun mental serta psikis mengalami perubahan yang signifikan.  Dapat dicontohkan perubahan pada remaja laki-laki seperti suara yang menjadi lebih besar, tumbuhnya jakun, matangnya organ reproduksi, dan perkembangan emosinya semakin matang. Begitu juga untuk remaja perempuan akan terjadi perubahan-perubahan pada dirinya, seperti perubahan bentuk tubuh, perkembangan organ reproduksi, dan juga perkembangan emosi seperti halnya pada remaja laki-laki. Remaja juga dapat diartikan sebagai masa pencarian jati diri, siapa saya (who am I) dan pencarian makna hidup. Dalam pencarian jati diri ini banyak akan ditemui konflik-konflik jika remaja tersebut tidak mampu mengenali dirinya sendiri dan tidak mampu menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya.
Masalah-masalah yang timbul pada masa remaja berbagai macam bentuknya, karena remaja pada umumnya ingin mengetahui segala hal yang belum diketahuinya, dan ingin mencoba hal tersebut walaupun tidak mengetahui efek negatif dari perbuatan tersebut. Rasa ingin tahu dan mencoba yang tinggi pada remaja ini dapat diarahkan oleh orang yang ada disekitarnya terutama orang tua dari remaja tersebut. Namun tindakan remaja ini dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu faktor keluarga dan lingkungan disekitarnya. Dua faktor tersebut sangat mempengaruhi dan membentuk tingkah laku dari remaja yang sedang berkembang. Hal ini dikarenakan remaja akan banyak manghabiskan waktu di keluarga dan pada lingkungan sekitarnya, sedangkan untuk lingkungan sekolah, rata-rata remaja hanya mengabiskan waktunya bersikar 7-8 jam.
Untuk mewujudkan remaja yang mampu mengatasi masalah yang ada pada dirinya, serta mampu mengahadapi tantangan kedepan yang akan semakin berat, maka pada diri remaja tersebut perlu ditanamkan kecakapan-kecakapan dalam hidup (life skills). Untuk menumbuhkan life skills atau kecakapan hidup pada remaja dapat dilakukan melalui pendidikan life skills. Pendidikan life skills yang diterima oleh remaja dapat diperoleh oleh remaja tersebut secara sendiri melalui pengalaman dan aktivitas hidup, maupun melalui orang lain. Pendidikan life skills melalui perantara orang lain dapat melalui peranan PIK Remaja atau juga PIK Mahasiswa. PIK menjadi salah satu fasilitator dalam pendidikan kecakapan hidup karena kecakapan hidup tersebut bukan hanya berupa kecakapan vokasional, melainkan juga kecakapan konsep diri, akademik , berpikir rasional, dan kecakapan sosial. Peranan yang dapat diberikan oleh PIK adalah dengan memberikan pendidikan kecakapan hidup atau life skills secara bertahap dan melalui mentoring.
B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis dapat mengidentifikasi beberapa masalah, yaitu:
1.   Remaja yang pada saat mengalami pertumbuhan dan perkembangan akan ada beberapa masalah yang timbul akibat pertumbuhan dan perkembangan tersebut, yang apabila remaja tersebut tidak mempu mengatasinya maka akan menjadi masalah yang besar.
2.   Dalam mengembangkan dan menunjang kecakapan hidup remaja, PIK memiliki peran sebagai  fasilitator..

C.  Batasan Masalah
Berdasarkan idenitifikasi masalah diatas, maka perlu dilakukannya pembatasan masalah agar pembahasan dapat lebih terarah dan menghasilkan kesimpulan yang baik. Maka penulis membatasi permasalahan ini pada   peranan PIK dalam menunjang pendidikan kecakapan hidup (life skills) remaja melalui pendidikan bertahap dan mentoring.

D.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan batasan masalah di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah-masalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi pada remaja saat ini ?
2.   Bagaimana peranan PIK dalam menunjang pendidikan life skills dalam mempersiapkan remaja yang mempu mengatasi tantangan masa depan yang akan semakin tinggi ?

E.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah menjabarkan peranan PIK dalam menunjang pendidikan life skills yang dapat dijadikan  salah satu acuan dalam pengajaran pendidikan life skills melalui pendidikan secara bertahap dan melalui mentoring.Tujuan umum penulisan ini adalah menambahkan wawasan mengenai  pendidikan life skills dan penerapannnya pada remaja.
F.   Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini yaitu:
1.     Dapat dijadikan sebagai sumbangsih untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
2.     Dapat dijadikan referensi bagi pendidik dalam mendidik peserta didik.
3.     Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.



























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Landasan Teori
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pada masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak ke masa dewasa. Secara fisik maupun kejiwaan banyak hal yang terjadi pada masa remaja. Periode ini sangat penting dipersiapkan agar remaja nantinya dapat tumbuh dan berkembangan menjadi seorang dewasa yang sehat dan produktif ( Pataki C S :  2005). Usia kanak akhir dan remaja awal (6-15 tahun) merupakan masa kritis bagi perkembangan prilaku dan kebiasan yang positif. Pada periode ini anak mampu berpikir abstrak dan memahami konsekuensi dari suatu kejadian serta menyelesaikan masalah-masalahnya. Timbul juga keinginan untuk semakin independen dari orang tuanya dan mempunyai control terhadap diri sendiri. Pada masa ini hubungan dengan teman sebaya menjadi dekat.
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Menurut definisi World Health Organization (WHO), life skills atau ketrampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif. Definisi itu adalah menurut World Health Organization (WHO). kecakapan mengenal diri (self awareness) atau sering disebut dengan kemampuan personal (personal skills).Kecakapan berpikir rasional (thinking skills), kecakapan akademik (academic skills),  kecakapan social (social skills), dan kecakapan vokasional (vocational skills) sering juga disebut dengan keterampilan kejuruan artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik (spesifik skills) atau keterampilan teknis ( techinal skills).
BAB III
Metodologi Penulisan

A.  Metodologi Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan melakukan pengumpulan data-data dari berbagai sumber. Dan  data yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dijadikan sebagai bahan pembuatan makalah beserta pedoman dari pada buku petunjuk penulisan makalah.
B. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan library research. Penulis mengkaji bebagai sumber yang berasal dari buku bacaan, artikel, jurnal ilmiah dari internet. 
C.  Sistematika Penulisan
1.   Pendahuluan
Pendahuluan berisi gambaran umum tentang remaja dan kecakapan hidup (life skills) serta permasalahan-permasalahan yang terjadi pada remaja pada saat ini.
2.   Tinjauan Pustaka
Merupakan dasar untuk dapat menganalisis permasalahan dan diperoleh dari berbagai referensi.
3.    Metodologi Penulisan
Merupakan tentang metode yang digunakan dalam menyusun makalah ini dan sistematika penulisan.
4.   Pembahasan
Merupakan inti dari penulisan ini, dimana dasar teori yang diperoleh dianalisa dan dikaitkan satu sama lain.
5.   Penutup
Merupakan bab yang memuat simpulan dan saran dari keseluruhan isi penulisan.


BAB IV
PEMBAHASAN

A.  Gambaran Umum Remaja
Remaja adalah masa dimana seseorang ingin memgetahui segala hal, baik yang hal yang positif ataupun  hal yang negatif.  Remaja juga masa dimana untuk mencari jati dirinya, keinginan untuk diakui keberadaannya baik didalam keluarga maupun dimasyarakat umum. Dalam masa pencarian jati dirinya, remaja banyak dihadapi pada konflik-konflik. Jika remaja tidak mampu mengatasi konflik yang ada tersebut, maka remaja tersebut akan terdorong ke permasalahan-permasalahan baru. Selain ketidakmampuan remaja mengatasi masalah yang ada padanya, ada beberapa penyebab eksternal lainnya seperti remaja yang terlahir dari keluarga broken home dan lingkungan yang tidak memberikan arah yang positif kepada remaja yang sedang tumbuh dan berkembangan inilah akan melahirkan remaja yang akan berbuat hal-hal yang tercela. Pada awalnya hanya mencoba merokok, kemudian kecanduan, mencoba minum minuman keras, dan juga kecanduan, hingga akhirnya mencoba barang terlarang. Remaja yang seperti pada awalnya hanya bermaksud untuk mencoba-coba, namun pada akhirnya menjadi ketergantungan dengan hal tersebut. Hal ini bertambah jadi karena dari pihak keluarga tidak ada yang melarang ataupun melakukan tindakan agar remaja tersebut tidak menggunakannya dan lingkungan yang juga sangat mendukung perbuatan tercela tersebut.
Selain kedua faktor diatas yang membuat terjadinya penyimpangan kelakuan pada remaja faktor adalah faktor kemajuan teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pesatnya perkembangan ini juga memberi dampak negatif, terutama bagi anak dan remaja yang secara mental masih belum matur. Kedua orang tuanya yang bekerja hingga malam hari akan mengakibatkan waktu kebersamaan dengan anak akan semakin sedikit, padahal sesuai dengan perkembangannnya, anak perlu figur orang tua yang berperan dalam pembentukan pondasi pada tumbuh kembangnya. Di pihak lain, anak juga lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dengan kegiatan-kegitan yang jarang melibatkan komunikasi interpersonal dengan teman sebaya. Akibatnya banyak anak menjadi kurang terampil dalam hubungan sosial.
Dari kesemua fakta yang sering ditampilkan kepada kita selama ini, Nampak jelas bahwa masa remaja adalah masa paling rawan dalam seluruh masa kehidupan seorang individu, mulai dari ia dilahirkan hingga mengakhiri hidupnya kelak sebagai orang dewasa. Temuan-temuan terakhir bahkan menandai semakin besarnya jumlah kasus serta kejadian penyimpangan prilaku dengan berbagai akibatnya, yang secara sistematik bernilai signifikan. Walaupun bisa jadi masih dianggap kontroversi sebagai sebuah kesimpulan , adalah jelas bahwa semakin banyak anak dan remaja yang berada dalam resiko untuk menjadi pembolos, drop out dari sekolah, pengguna obat-obatan terlarang, anak nakal, hamil remaj diluar nikah, pelaku kekerasan, dan penganiayaan.

B.  Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) Melalui Pendidikan Bertahap dan Mentoring
Istilah kecakapan hidup (life skill) diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadap problema hidup dan penghidupan secara wajar. Tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Dirjen PLSP, Direktorat Tenaga Teknis, 2003). Sedangkan menurut Brolin (1989) menjelaskan bahwa “life skills constitute a continuum of knowledge and aptitude that are necessary for a person to function effectively and to avoid interruptions of employment experience”. Dengan demikian life skill dapat dinyatakan sebagai kecakapan untuk hidup, istilah hidup, dan tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu saja (vocational skills), namum ia harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti : membaca, menulis, menghitung, merumuskan, dan memecahkan masalah, mengelolah sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja, dan mempergunakan teknologi ( Satori, 2002).
Indikator-indikator yang terkandung dalam life skill secara konseptual dikelompokkan :
1)      kecakapan mengenal diri (self awareness) atau sering disebut dengan kemampuan personal (personal skills).
2)      Kecakapan berpikir rasional (thinking skills).
3)       Kecakapan akademik (academic skills).
4)    Kecakapan social (social skills).
5)  Kecakapan vokasional (vocational skills) sering juga disebut dengan keterampilan kejuruan artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik (spesifik skills) atau keterampilan teknis ( techinal skills).

Melihat banyaknya fenomena yang terjadi pada anak-anak dan remaja saat ini, hal apa yang dapat dilakukan oleh orang tua, guru, maupun orang-orang yang berada disekitar anak-anak dan remaja tersebut. Hal-hal yang dapat diberikan oleh orang tua dan guru salah satunya kecakapan hidup. Kecakapan hidup atau life skills tidak hanya diterima oleh remaja di rumah atau sekolah saja, tetapi dilingkungkan pun memberikan efek pada kecakapan hidup remaja tersebut.
Di dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan kampus, pendidikan karakter dapat diberikan melalui peranan Unit-unit kegiatan, salah satunya yaitu Unit Kegiatan Pusat Informasi dan Konseling baik untuk Remaja maupun Mahasiswa (UK PIK R/M). salah satu upaya yang dapat diberikan PIK dalam menunjang pendidikan kecakapan hidup atau life skills adalah melalui pendidikan yang diberikan oleh PIK kepada remaja dengan cara memberikan pendididikan secara bertahap dan mentoring. Pendidikan bertahap yang dimaksudkan disini yaitu pendidikan kecakapan hidup yang berupa kecakapan mengenal diri, kecakapan berpikir rasional, kecakapan akademik, kecakapan sosial dan kecakapan vokasional diberikan secara bertahap kepada remaja dan dilakukannya mentoring untuk melihat perkembangan dan kemajuan kecakapan skills pada remaja tersebut.
Pendidikan kecakapan hidup yang diberikan oleh PIK kepada remaja dapat dimulai dengan cara membuat suatu kelompok remaja yang terdiri dari 4-5 orang. Dan terdiri dari beberapa kelompok. Kelompok remaja ini yang nantinya akan dibina oleh mentor-mentor yang berasal dari anggota PIK yang setidaknya menguasai materi mengenai pendidikan kecakapan hidup dan inovasi-inovasinya agar pendidikan yang diberikan nantinya tidak membosankan dan dapat membuat para remaja untuk ikut terus pendidikan bertahap dan mentoring ini. Pelaksanaan pendidikan bertahap ini dapat dilakukan dalam waktu 1 minggu sekali, dan pemilihan waktu untuk dilakukannya mentoring dapat disesuaikan dengan jadwal dari peserta pendidikan mentoring dan juga jadwal dari mentornya. Untuk peserta pendidikan kecakapan hidup ini dapat berasal dari remaja yang masih duduk di bangku pendidikan atau juga remaj ayang telah putus sekolah.
Pendidikan atau materi dari pendidikan kecakapan hidup ini difokuskan pada lima indikator-indikator dari pendidikan kecakapan hidup itu, yaitu kecakapan mengenal konsep diri (self awareness), berpikir rasional (thinking skills), kecakapan akademik ( academic skills), kecakapan sosial (social skills), dan kecakapan vokasional (vocasional skills). Materi pertama yang dapat disampaikan pada remaja tersebut yaitu pendidikan mengenai mengenal konsep diri, hal ini dilakukan pada awal permulaan pendidikan karena diharap nanti remaja dapat mengetahui siapa dirinya, akan dibawa kemana dirinya nanti, dan mengetahui potensi-potensi tang ada pada dirinya, dan dari hal tersebut maka dapat dikembangkan potensi-potensi tersebut melalui pendidikan yang akan diebrikan selanjutnya. Jika materi mengenal konsep diri telah selesai dan remaja telah mampu menenal potensi yan ada di dirinya, maka materi selanjutnya dapat dilaksanakan.
Materi selanjutnya yang diberikan kepada para remaja adalah mengenai pendidikan untuk berpikir rasional (thinking skills). Berpikir rasional merupakan suatu tindakan yang dilakukan tidak dengan terburu-buru, melainkan dengan berpikir secara matang akan resiko baik maupun buruk dimasa yang akan datang. Hal ini selayaknya dilakukan oleh para remaja yang pada umumnya dalam mengambil tindakan hanya didasarkan pada emosi saja, sehingga sering terjadinya tindakan anarkis pada remaja pada saat mengambil tindakan yang didasarkan pada emosi semata. Berpikir rasional juga baik bukan bagi remaja saja, tetapi juga pada orang dewasa lainnya. Dalam hal bekerja ataupun aktivitas lainnya berpikir rasional merupakan salah satu hal yang harus ada dalam semua tindakan dan dalam mengambil keputusan.
Jika kedua indikator dalam pendidikan kecakapan hidup tersebut telah tercapai oleh remaja yang mengikuti pendidikan kecakapan hidup ini, maka peranan PIK dalam melanjutkan materi atau indikator selanjutnya akan lebih mudah, karena dua indikator diatas merupakan penentunya. Pendidikan kecakapan akademik dan vokasional dapat djalankan secara bersamaan, karena kedua indikator ini saling menunjang. Pendidikan ini dapat dieberikan dengan membuat suatu keterampilan-keterampilan yang dapat disesuikan dengan minat dan bakat remaja tersebut. Keterampilan disini dapat berupa hasil (produk) ataupun dalam bentuk jasa.  Pendidikan akademik yang diberikan juga merupakan pendidikan untuk remaja tersebut dapat menunjang kecakapan vokasionalnya. Misalnya minat remaja tersebut kearah mereparasi mobil, maka kecakapan akademik yang dapat diperoleh anak tersebut berupa  cara secara teori teknik-teknik untuk mereparasi mobil tersebut, dan jika dirasa telah mampu remaja tersebut dalam hal teori, maka dapat dilanjutkan dengan menerapkan atau ilmu tersebut.
Untuk kecakapan sosial akan berkembang dengan sendirinya sejalan dengan indikator-indikator yang lainnya. Karena pada saat mendapatkan pendidikan kecakapan hidup ini, remaja juga melakukan interaksi dengan orang lain, baik kepada temannya maupun dengan mentor-mentornya yang berasal dari anggota PIK. Selain itu juga remaja yang telah dapat mendapatkan pendidikan kecakapan vokasional dan telah mampu, maka remaja tersebut juga dapat menjalin kerjasama dengan usaha atau industri yang terkait dengan kecakapan vokasional yang telah dikuainya. Hubungan antara remaja peserta pendidikan kecakapan hidup dengan dunia usaha dan industri dan difasilitasi oleh PIK yang melaksanakan pendidikan terkait.
Pendidikan yang diberikan kepada remaja ini dengan anggota PIK sebagai fasilitatornya dirasakan akan lebih mudah untuk diterima oleh remaja. Hal ini karena, setidaknya anggota PIK telah mendapatkan bekal ilmu yang lebih dulu di peroleh sebelumnya. Selain itu juga anaggota PIK telah mengetahui bagaiman cara terbaik untuk mendekat kepada remaja agar saran ataupun ilmu yang disampaikan dapat diterima denganbaik oleh remaja tersebut. Pendidikan yang diterima oleh remaja tersebut akan terus dilakukan mentoring untuk melihat perkembangan pada remaja tersebut,. Jadi pendidikan yang diberikan oleh para mentor tersebut bukan hanya diberikan begitu saja, akan dilihat implikasinya pada remaja tersebut hingga menampakan perubahan lebih baik dari remaja tersebut. Pendidikan kecakapan hidup ininjuga dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan dunia usaha dan industri baik yang menghasilkan produk ataupun jasa untuk mengpalikasikan ilmu teori yang didapatkannya langsung ke dunia usaha tersebut. Pendidikan kecakapn hidup ini bertujuan agar remaja tesebut dapat berdiri tegak diantara persaingan kedepan yang dirasakan akan lebih berat dan lebih ketat.  




























BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari uraian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal yang terkait dengan pendidikan kecakapan hidup (life skills) yang tidak hanya menjurus kepada pendidikan kejuruan saja, melainkan mencakup beberapa hal seperti pendidikan  kecakapan mengenal diri (self awareness), kecakapan berpikir rasional (thinking skills), kecakapan akademik (academic skills), dan kecakapan sosial (social skills). Kecakapan hidup dapat diperoleh oleh seorang remaja jika remaja tersebut ikut berperan aktif baik di sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya.
Peranan PIK dalam menunjang pendidikan kecakapan hidup remaja agar remaja yang mendapatkan pendidikan kecakapan hidup ini dapat bertahan dan mampu mengatasi permasalahan yang timbul pada dirinya. Kecakapan hidup ini juga diberikan kepada remaja agar remaja tersebut dapan bertahan dan dapat berdiri tegak diantara persaingan kedepannya akan semakin tinggi dan ketat. Selain itu juga pendidikan kecapakan hidup ini akan membuat remaja menjadi seseorang yang tidak hanya bekerja kepada orang lain, atau mencari kerja (job seccer) melainkan membuat remaja akan menghasilkan lapangan pekerjaan sendiri (job creator) melalui pendidikan vokasionalnya.
.

B.  Saran
Berdasarkan uraian makalah yang dikemukan diatas, maka dapat disarankan beberapa hal, yaitu:
1.   kepada pemerintah, bahwasanya pendidikan yang ada saat ini merupakan pendidikan yang hanya mengedapankan aspek kognitif saja, namum pada kenyataanya dalam kebutuhan dunia usaha atau dunia kerja, yang dibutuhkan bukan hanya itu, melainkan aspek-aspek yang menyangkut dalam kecakapan hidup (life skills).
2.   Diharapkan dengan adanya peranan PIK dalam menunjang kecakapan hidup remaja mampu membuat remaj tersebut dapat menghadapi tantangan masa depan yang akan lebih sulit damn lebih tinggi persaingannya.





DAFTAR PUSTAKA

http://abas-nr.blogspot.com/2010/01/ makalah cara belajar siswa aktif. Diakses pada hari kamis, 29 Maret 2012 pukul 14.32 WIB
Dimayati, Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Kaligis, Fransisca dkk. (2009). Efektivitas Pelatihan Kecakapan Hidup Terhadap Citra Diri Remaja. Diakses pada hari Jumat, 30 Maret 2012 pukul 16.01 WIB
Ramdhani, Miskat dkk. (2006). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Proses Belajar dan Tingkat kecakapan Hidup Remaja. Diakses pada  hari Jumat, 30 Maret 2012 pukul 16.15 WIB
Kementrian Pendidikan Nasional. (2011). Pendidikan Kecakapan Hidup Melalui Lembaga Pendidikan.  Diakses pada hari Jumat, 30 Maret 2012 pukul 15.45 WIB


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar